Kejar Bintang, Flexi Target 1 Juta Pelanggan Baru

Flexi Jatim, Bali, dan Nusra mengejar penjualan 1 juta lembar kartu perdana edisi ‘Kejar Bintang’ sampai awal 2011 untuk membiayai pembuatan film ‘Bendera Sobek’.

Ivone Andayani, Marketing Communication Manager Flexi Jatim, Bali, dan Nusra, mengatakan sampai saat ini kartu perdana flexi edisi khusus tersebut masih baru laku sebanyak 3.000 lembar.

“Karena itulah kami akan melakukan berbagai strategi percepatan penjualan kartu perdana tersebut,” kata Ivone, Rabu (24/11).

Strategi dimaksud, menurut dia, seperti mengumpulkan kepala-kepala sekolah di daerah-daerah yang menjadi tempat audisi calon bintang film tersebut.

Pengumpulan kepala sekolah itu, seperti di Surabaya dan Malang. Dukungan dua kepala daerah terhadap pembuatan film cukup bagus. Walikota Malang Peni Suparto mempersilakan flexi mengumpulkan kepala sekolah untuk diberikan informasi mengenai rencana adanya audisi calon bintang film “Bendera Sobek.”

Strategi lainnya, mengadakan lomba band pengisi sound track film berbiaya Rp14 miliar itu. Band peserta lomba terus harus membeli kartu perdana edisi tersebut, begitu juga dukungan pesan pendek dari masyarakat harus menggunakan kartu perdana edisi khusus tersebut.

Penjualan kartu perdana tersebut sudah termasuk pula tiket untuk menonton film tersebut, serta asuransi selama mengikuti audisi.

Dwi Ilalang, Sutradara ‘Bendera Sobek’ menambahkan jika kartu perdana tersebut laku terjual maka captive market dari film tersebut sudah jelas. Ada satu juta penonton film tersebut, jumlah yang sangat besar untuk penonton film di Indonesia.

Selain itu, pembeli kartu perdana tersebut akan menjadi database PT Rawali Megah Vision, menjadi calon potensial bintang yang diproduksi rumah produksi tersebut.

“Karena pasar film sudah jelas, maka tidak perlu daya tarik bintang besar yang membitangin film tersebut.” Bagi flexi, menurut Ivone, pemilik kartu perdana tersebut jelas merupakan pangsa pasar layanan fitur-fitur flexi.

Pembuatan film tersebut, menurut Dwi, berangkat dari idealisme untuk mengenalkan dan mengembangkan potensi Jatim di pentas bisnis perfilman nasional.

“Nantinya, dialek dalam film tidak lagi dengan dialek lu gue, tapi dialek yang berkembang di Jatim, seperti ada pengaruh dialek Madura maupun Tionghoa.”

Dengan begitu maka bisnis film tidak melulu berorientasi ke Jakarta, melainkan juga bisa berkembang di daerah, seperti Jatim. “Karena itulah, nantinya ada lagi proyek-proyek film lanjutan.”

Rencananya, produksi film tersebut dimulai pada Feburari dan ditayangkan pada 31 Mei di jaringan bioskop kelompok Studio 21.

Meski belum jadi, film tersebut sudah didaftarkan untuk mengikuti sembilan ajang festival film internasional, diantaranya festival film Pusan di Korea Selatan dan Cannes di Perancis.



sumber : bisnis-jatim

FOLLOWERS

Komentar